Sabtu, 13 September 2008

SIAPA TEMANMU?

“Apabila engkau berada di tengah-tengah suatu kaum maka pililhlah orang-orang yang balk sebagai sahabat, dan janganlah engkau bersahabat dengan orang-orang jahat sehingga engkau akan binasa bersamanya”

Wanita adalah bagian dari kehidupan manusia, sehingga dia tak akan pernah lepas dari pola interaksi dengan sesama. Terlebih dominasi perasaan yang melekat pada dirinya, membuat dia butuh teman tempat mengadu, tempat bertukar pikiran dan bermusyawarah. Berbagai problem hidup yang dialami menjadikan dia berfikir bahwa, meminta pendapat, saran dan nasehat teman adalah suatu hal yang perlu. Maka teman sangat vital bagi kehidupannya, siapa sih yang tidak butuh teman dalam hidup ini..?

Namun wanita muslimah adalah wanita yang dipupuk dengan keimanan dan dididik dengan pola interaksi Islami. Maka pandangan Islam dalam memilih teman adalah barometernya, karena dirinya sadar, teman yang baik (shalihah) memiliki pengaruh besar dalam menjaga keistiqomahan agamanya. Selain itu teman shalihah adalah sebenar-benar teman yang akan membawa mashlahat dan manfaat. Maka dalam pergaulannya dia akan memilih teman yang baik dan shalihah, yang benar-benar memberikan kecintaan yang tulus, selalu memberi nasihat, tidak curang dan menunjukan kebaikan. Karena bergaul dengan wanita-wanita shalihah dan menjadikannya sebagai teman selalu mendatangkan manfaat dan pahala yang besar, juga akan membuka hati untuk menerima kebenaran. maka kebanyakan teman akan jadi teladan bagi temannya yang lain dalam akhlak dan tingkah lake. Seperti ungkapan “Janganlah kau tanyakan seseorang pada orangnya, tapi tanyakan pada temannya. karena setiap orang mengikuti temannya”.

Bertolak dari sinilah maka wanita muslimah senantiasa dituntut untuk dapat memilih teman, juga lingkungan pergaulan yang tak akan menambah dirinya melainkan ketakwaan dan keluhuran jiwa. Sesungguhnya Rasulullah juga telah menganjurkan untuk memilih teman yang baik (shalihah) dan berhati-hati dari teman yang jelek.

Hal ini telah dimisalkan oleh Rasulullah melalui ungkapannya:
“Sesungguhnya perumpamaan teman yang baik (shalihah) dan teman yang jahat adalah seperti pembawa minyak wangi dan peniup api pandai besi. Pembawa minyak wangi mungkin akan mencipratkan minyak wanginya itu atau engkau menibeli darinya atau engkau hanya akan mencium aroma harmznya itu. Sedangkan peniup api tukang besi mungkin akan membakar bajumu atau engkau akan mencium darinya bau yang tidak sedap”.
(Riwayat Bukhari, kitab Buyuu’, Fathul Bari 4/323 dan Muslim kitab Albir 4/2026)1

Dari petunjuk agamanya, wanita muslimah akan mengetahui bahwa teman itu ada dua macam. Pertama, teman yang shalihah, dia laksana pembawa minyak wangi yang menyebarkan aroma harum dan wewangian. Kedua teman yang jelek laksana peniup api pandai besi, orang yang disisinya akan terkena asap, percikan api atau sesak nafas, karena bau yang tak enak.

Maka alangkah bagusnya nasehat Bakr bin Abdullah Abu Zaid, ketika baliau berkata,” Hati-¬hatilah dari teman yang jelek …!, karena sesungguhnya tabiat itu suka meniru, dan manusia seperti serombongan burung yang mereka diberi naluri untuk meniru dengan yang lainnya. Maka hati-hatilah bergaul dengan orang yang seperti itu, karena dia akan celaka, hati- hatilah karena usaha preventif lebih mudah dari pada mengobati “.

Maka pandai-pandailah dalam memilih teman, carilah orang yang bisa membantumu untuk mencapai apa yang engkau cari . Dan bisa mendekatkan diri pada Rabbmu, bisa memberikan saran dan petunjuk untuk mencapai tujuan muliamu.

Maka perhatikanlah dengan detail teman-¬temanmu itu, karena teman ada bermacam-macam
• ada teman yang bisa memberikan manfaat
• ada teman yang bisa memberikan kesenangan (kelezatan)
• dan ada yang bisa memberikan keutamaan.

Adapun dua jenis yang pertama itu rapuh dan mudah terputus karena terputus sebab-sebabnya. Adapun jenis ketiga, maka itulah yang dimaksud persahabatan sejati. Adanya interaksi timbal balik karena kokohnya keutamaan masing-masing keduanya. Namun jenis ini pula yang sulit dicari. (Hilyah Tholabul ‘ilmi, Bakr Abdullah Abu Zaid halarnan 47-48)

Memang tidak akan pernah lepas dari benak hati wanita muslimah yang benar-benar sadar pada saat memilih teman, bahwa manusia itu seperti barang tambang, ada kualitasnya bagus dan ada yang jelek. Demikian halnya manusia, seperti dijelaskan Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam :

” Manusia itu adalah barang tambang seperti emas dan perak, yang paling baik diantara mereka pada zaman jahiliyyah adalah yang paling baik pada zaman Islam jika mereka mengerti. Dan ruh-ruh itu seperti pasukan tentara yang dikerahkan, yang saling kenal akan akrab dan yang tidak dikenal akan dijauhi ” (Riwayat Muslim)

Wanita muslimah yang jujur hanya akan sejalan dengan wanita-wanita shalihah, bertakwa dan berakhlak mulia, sehingga tidak dengan setiap orang dan sembarang orang dia berteman, tetapi dia memilih dan melihat siapa temannya. Walaupun memang, jika kita mencari atau memilih teman yang benar-benar bersih sama sekali dari aib, tentu kita tidak akan mendapatkannya. Namun, seandainya kebaikannya itu lebih banyak daripada sifat jeleknya, itu sudah mencukupi.

Maka Syaikh Ahmad bin ‘Abdurrahman bin Qudamah al-Maqdisi atau terkenal dengan nama Ibnu Qudamah AlMaqdisi memberikan nasehatnya juga dalam memilih teman: “Ketahuilah, bahwasannya tidak dibenarkan seseorang mengambil setiap orang jadi sahabatnya, tetapi dia harus mampu memilih kriteria¬-kriteria orang yang dijadikannya teman, baik dari segi sifat-sifatnya, perangai-perangainya atau lainnya yang bisa menimbulkan gairah berteman sesuai pula dengan manfaat yang bisa diperoleh dari persahabatan tersebut itu. Ada manusia yang berteman karena tendensi dunia, seperti karena harta, kedudukan atau sekedar senang melihat-lihat dan bisa ngobrol saja, tetapi itu bukan tujuan kita.

Ada pula orang yang berteman karena kepentingan Dien (agama), dalarn hal inipun ada yang karena ingin mengambil faidah dari ilmu dan amalnya, karena kemuliaannya atau karena mengharap pertolongan dalam berbagai kepentingannya. Tapi, kesimpulan dari semua itu orang yang diharapkan jadi teman hendaklah memenuhi lima kriteria berikut; Dia cerdas (berakal), berakhlak baik, tidak fasiq, bukan ahli bid’ah dan tidak rakus dunia. Mengapa harus demikian ?, karena kecerdasan adalah sebagai modal utama, tak ada kabaikan jika berteman dengan orang dungu, karena terkadang ia ingin menolongmu tapi malah mencelakakanmu. Adapun orang yang berakhlak baik, itu harus. Karena terkadang orang yang cerdaspun kalau sedang marah atau dikuasai emosi, dia akan menuruti hawa nafsunya. Maka tak baik pula berteman dengan orang cerdas tetapi tidak berahlak. Sedangkan orang fasiq, dia tidak punya rasa takut kepada Allah. Dan barang siapa tidak takut pada Allah, maka kamu tidak akan aman dari tipu daya dan kedengkiannya, Dia juga tidak dapat dipercaya. Kalau ahli bid’ah jika kita bergaul dengannya dikhawatirkan kita akan terpengaruh dengan jeleknya kebid’ahannya itu. (Mukhtasor Minhajul Qasidin, Ibnu Qudamah hal 99).

Maka wanita muslimah yang benar-benar sadar dan mendapat pancaran sinar agama, tidak akan merasa terhina akibat bergaul dengan wanita-wanita shalihah meskipun secara lahiriyah, status sosial clan tingkat materinya tidak setingkat. Yang menjadi patokan adalah substansi kepribadiannya dan bukan penampilan dan kekayaan atau lainnya. “Pergaulan anda dengan orang mulia menjadikan anda termasuk golongan mereka, karenanya janganlah engkau mau bersahabat dengan selain mereka”.
Oleh karena itu datang petunjuk Al Qur’an yang menyerukan hal itu :

“Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang¬-orang yang menyeru Rabbnya dipagi dan disenja hari dengan mengharap keridhoan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”(Al-Kahfi:28)

Footnote:
1.Al Bid’ah, Dr. Ali bin M. Nashir Maraji :
• Hilyah tolabul ‘ilmi, Bakr Abdullah Abu Zaed
• Mukhtasor Minhajul Qasidin, Ibnu Qudamah
• Bid’ah dhowabituha wa atsaruhas Sayyisil Ummah,Dr. Ali Muhammad Nashir AlFaqih
• Sahsiyah Mar’ah, Dr M.Ali Al Hasyimi

Dikutip dari Buletin Dakwah Al-Atsari, Cileungsi Edisi X Sha’ban 1419

Rabu, 02 Juli 2008

GURINDAM 12

Gurindam I
Ini gurindam pasal yang pertama:
Barang siapa tiada memegang agama,
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Barang siapa mengenal yang empat,
maka ia itulah orang yang ma'rifat
Barang siapa mengenal Allah,
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.
Barang siapa mengenal diri,
maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri.
Barang siapa mengenal dunia,
tahulah ia barang yang teperdaya.
Barang siapa mengenal akhirat,
tahulah Ia dunia mudarat.

Gurindam II
Ini gurindam pasal yang kedua:
Barang siapa mengenal yang tersebut,
tahulah ia makna takut.
Barang siapa meninggalkan sembahyang,
seperti rumah tiada bertiang.
Barang siapa meninggalkan puasa,
tidaklah mendapat dua termasa.
Barang siapa meninggalkan zakat,
tiadalah hartanya beroleh berkat.
Barang siapa meninggalkan haji,
tiadalah ia menyempurnakan janji.

Gurindam III
Ini gurindam pasal yang ketiga:
Apabila terpelihara mata,
sedikitlah cita-cita.
Apabila terpelihara kuping,
khabar yang jahat tiadaiah damping.
Apabila terpelihara lidah,
niscaya dapat daripadanya paedah.
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
daripada segala berat dan ringan.
Apabila perut terlalu penuh,
keluarlah fi'il yang tiada senunuh.
Anggota tengah hendaklah ingat,
di situlah banyak orang yang hilang semangat
Hendaklah peliharakan kaki,
daripada berjaian yang membawa rugi.

Gurindam IV
Ini gurindam pasal yang keempat:
Hail kerajaan di daiam tubuh,
jikalau lalim segala anggotapun rubuh.
Apabila dengki sudah bertanah,
datanglah daripadanya beberapa anak panah.
Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
di situlah banyak orang yang tergelincir.
Pekerjaan marah jangan dibela,
nanti hilang akal di kepala.
Jika sedikitpun berbuat bohong,
boleh diumpamakan mulutnya itu pekong.
Tanda orang yang amat celaka,
aib dirinya tiada ia sangka.
Bakhil jangan diberi singgah,
itupun perampok yang amat gagah.
Barang siapa yang sudah besar,
janganlah kelakuannya membuat kasar.
Barang siapa perkataan kotor,
mulutnya itu umpama ketur2.
Di mana tahu salah diri,
jika tidak orang lain yang berperi.

Gurindam V
Ini gurindam pasal yang kelima:
Jika hendak mengenai orang berbangsa,
lihat kepada budi dan bahasa,
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,
sangat memeliharakan yang sia-sia.
Jika hendak mengenal orang mulia,
lihatlah kepada kelakuan dia.
Jika hendak mengenal orang yang berilmu,
bertanya dan belajar tiadalah jemu.
Jika hendak mengenal orang yang berakal,
di dalam dunia mengambil bekal.
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.

Gurindam VI
Ini gurindam pasal yang keenam:
Cahari olehmu akan sahabat,
yang boleh dijadikan obat.
Cahari olehmu akan guru,
yang boleh tahukan tiap seteru.
Cahari olehmu akan isteri,
yang boleh dimenyerahkan diri.
Cahari olehmu akan kawan,
pilih segala orang yang setiawan.
Cahari olehmu akan abdi,
yang ada baik sedikit budi,

Gurindam VII
Ini Gurindam pasal yang ketujuh:
Apabila banyak berkata-kata,
di situlah jalan masuk dusta.
Apabila banyak berlebih-lebihan suka,
itulah landa hampirkan duka.
Apabila kita kurang siasat,
itulah tanda pekerjaan hendak sesat.
Apabila anak tidak dilatih,
I'ika besar bapanya letih.
Apabila banyak mencela orang,
itulah tanda dirinya kurang.
Apabila orang yang banyak tidur,
sia-sia sahajalah umur.
Apabila mendengar akan khabar,
menerimanya itu hendaklah sabar.
Apabila menengar akan aduan,
membicarakannya itu hendaklah cemburuan.
Apabila perkataan yang lemah-lembut,
lekaslah segala orang mengikut.
Apabila perkataan yang amat kasar,
lekaslah orang sekalian gusar.
Apabila pekerjaan yang amat benar,
tidak boleh orang berbuat onar.

Gurindam VIII
Ini gurindam pasal yang kedelapan:
Barang siapa khianat akan dirinya,
apalagi kepada lainnya.
Kepada dirinya ia aniaya,
orang itu jangan engkau percaya.
Lidah yang suka membenarkan dirinya,
daripada yang lain dapat kesalahannya.
Daripada memuji diri hendaklah sabar,
biar dan pada orang datangnya khabar.
Orang yang suka menampakkan jasa,
setengah daripada syarik mengaku kuasa.
Kejahatan diri sembunyikan,
kebalikan diri diamkan.
Keaiban orang jangan dibuka,
keaiban diri hendaklah sangka.

Gurindam IX
Ini gurindam pasal yang kesembilan:
Tahu pekerjaan tak baik,
tetapi dikerjakan,
bukannya manusia yaituiah syaitan.
Kejahatan seorang perempuan tua,
itulah iblis punya penggawa.
Kepada segaia hamba-hamba raja,
di situlah syaitan tempatnya manja.
Kebanyakan orang yang muda-muda,
di situlah syaitan tempat berkuda.
Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,
di situlah syaitan punya jamuan.
Adapun orang tua yang hemat,
syaitan tak suka membuat sahabat
Jika orang muda kuat berguru,
dengan syaitan jadi berseteru.

Gurindam X
Ini gurindam pasal yang kesepuluh:
Dengan bapa jangan durhaka,
supaya Allah tidak murka.
Dengan ibu hendaklah hormat,
supaya badan dapat selamat.
Dengan anak janganlah lalai,
supaya boleh naik ke tengah balai.
Dengan isteri dan gundik janganlah alpa,
supaya kemaluan jangan menerpa.
Dengan kawan hendaklah adil supaya tangannya jadi kafill.

Gurindam XI
Ini gurindam pasal yang kesebelas:
Hendaklah berjasa,
kepada yang sebangsa.
Hendaklah jadi kepala,
buang perangai yang cela.
Hendaklah memegang amanat,
buanglah khianat.
Hendak marah,
dahulukan hajat.
Hendak dimulai,
jangan melalui.
Hendak ramai,
murahkan perangai.

Gurindam XII
Ini gurindam pasal yang kedua belas:
Raja muafakat dengan menteri,
seperti kebun berpagarkan duri.
Betul hati kepada raja,
tanda jadi sebarang kerja.
Hukum adil atas rakyat,
tanda raja beroleh anayat.
Kasihan orang yang berilmu,
tanda rahmat atas dirimu.
Hormat akan orang yang pandai,
tanda mengenal kasa dan cindai.
Ingatkan dirinya mati,
itulah asal berbuat bakti.
Akhirat itu terlalu nyata,
kepada hati yang tidak buta.

(sumber : id.wikisource.org/wiki)

Sabtu, 03 Mei 2008

Jom........Masak

wah......kebetulan hari ini ada pasar malam di seksyen17 kesana dulu.
tapi bingung nich mau masak apa ya hari ini..........
andalannya buka internet browsing cari resep masakan yg gampang aja dan bahan-bahannyapun gak sulit di cari di pasar. ternyata dapat dech........
Ini sekedar berbagi aja silahkan di coba.

Cumi Cah Kangkung (Jambi)

Bahan:
500 gr cumi segar
3 siung bawang, haluskan
2 ikat kangkung, siangi
2 sdm margarin
1 sdm kecap ikan
1 sdt minyak wijen
100 ml air
1/2 sdt garam

Cara membuat:
Bersihkan cumi, potong-potong, gurat-gurat bagian dalamnya.
Panaskan margarin, tumis bawang putih sampai harum.
Masukkan cumi, kecap ikan, minyak wijen, air, dan garam, aduk rata.
Masukkan kangkung, masak sebentar.
Angkat dan sajikan selagi hangat.

Untuk 4 porsi
Sumber : Nova Online

---Selamat Mencoba--

Rabu, 02 April 2008

BUKU-BUKU NOVEL TIMUR TENGAH yg saya punya n udah baca

Sang Penyair
Penulis: Mustafa Luthfi Al Manfaluthi

Bila cinta hanya diukur dan dilihat dari segi fisik, dari segi materi, maka betapa banyak korban-korban cinta. Betapa bumi akan dipenuhi dengan air mata kesedihan dan penyesalan. Betapa banyak pena yang diperlukan untuk menulis ratapan sedih dan kutukan. Dan berapa banyak jiwa-jiwa yang merana. Benarkah rasa cinta yang tak terkatakan jauh lebih berharga dari cinta yang terurai dengan kata-kata?

Surau Tercinta
Penulis: Sutirman Eka Ardhana

Sepasang remaja menjalin kasih dari sebuah surau di desa kecil. Namun sepeda cinta yang dikayuh tidak mengalun semerdu dendang-dendang tadarus, hempasan dari lingkungan yang masih tradisional menghantam mereka. Mampukah mereka melabuhkan hatinya dipelaminan.

Salamah
Penulis: Ali Achmad Baktsiir

Seorang sufi yang alim dan luas pengetahuan ilmu agamanya, jatuh hati pada seorang budak wanita. Kisah percintaan mereka menjadi bahan perbincangan masyarakat, apalagi budak itu adalah seorang penyanyi, yang dinilai sebagai pekerjaan hina. Pantaskah orang alim mencintai seorang penyanyi wanita? Pantaskah tokoh yang disegani masyarakat karena artikelakwaannya, terus-menerus memuji kecantikan seorang wanita? Apakah dengan demikian artikelakwaannya pada Tuhan menjadi luntur?

Tarian Rembulan
Sebuah karya antologi orang-orang Arab yang menarik untuk dibaca. Dari sana kita akan mendapat berbagai pengalaman yang dialami anak-anak manusia dengan adat istiadat, budaya, politik, dan kondisi kemanusia yang sangat berbeda dengan Indonesia. Namun apabila kita mau sedikit membuka hati, ternyata banyak persamaan tentang hakekat kemanusiaan, yaitu bagaimana orang-orang Arab menyikapi berbagai perubahan yang dialami negerinya, sikap mereka tentang wanita dan jilbab, pendidikan, kehidupan para budak, kepercayaan, tahayul dan cinta.

Perempuan Jogja
Penulis: Achmad Munif

Perempuan yang tetap tegar walau si suami tidak setia. Perempuan yang tetap menjaga martabat­nya sebagai isteri meskipun sang suami lupa diri. Dialah perempuan yang memahami hak-haknya. Perkasa dan tidak cengeng. Dialah perempuan yang memiliki definisi tersendiri mengenai gender dan feminisme. Membaca novel ini, kita juga akan diajak menelusuri kekayaan budaya dan jejak masa lalu kota Yogyakarta.

Magdalena
Penulis: Mustafa Luthfi Al Manfaluthi

Novel ini menceritakan kisah cinta dua anak manusia yang terbelenggu dalam kelaziman adat. Cinta sering harus kalah dengan pertanyaan “apa yang ia miliki?” atau “dia tidak sepadan dengan kita”. Karya terkenal ini bukan hanya di negeri Arab, tapi sampai ke Indonesia. Di Indonesia terkenal berkaitan dengan novel ‘Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk’ karya Hamka yang dituduh sebagai plagiat buku ini. Walau sebenarnya tuduhan itu tidak terlepas dari konteks politik saat itu.

Malam Pengantin
Penulis: Taufik El Hakim

Malam pengantin adalah malam yang ditunggu dengan hati berdebar-debar, segalanya dipertaruhkan. Manisnya madu cinta, kenikmatan surgawi adalah hidangan utama bagi sepasang kekasih di malam pengantin. Namun apa jadinya bila gairah yang menggebu malam itu, harus sirna, dingin dan beku?
Harapan acapkali tidak sesuai dengan kenyataan. Apa yang kita pandang baik, seringkali malah sebaliknya. Terkadang baik untuk orang lain, tapi tidak baik untuk kita. Begitulah rahasia kehidupan. Pun begitu kehidupan tetap indah dan menyimpan pesona.
Karya Taufiq el Hakim ini banyak mengajarkan pada kita untuk kembali memegang teguh nurani. Karena nurani adalah cermin yang tak mungkin berdusta.


Musafir Cinta
Penulis: Samiroh

Dikisahkan perjuangan seorang gadis muda belia yang yang mengalami tekanan batin yang begitu luar biasa dalam hidupnya akibat tekanan adat sukunya hingga membuatnya menjadi bisu. Namun ia tidak menyerah, justru dengan kondisi itu mencoba tetap tegar dan terus berkarya. Ia mempunyai tekad untuk melawan artikelidakpedulian masyarakat dengan karya-karyanya.


Rintihan Jiwa
Penulis: Mustafa Lutfi al Manfaluthi
Cetakan I Maret 2003

Orang-orang lemah tak berdaya .. tertindas dan tersiksa... jiwa mereka merintih... hati mereka terluka ... Lantas apa yang mereka punya? Kehidupan selalu menyimpan misteri. Andaikata hidup itu lurus-lurus saja, tidak ada sengsara dan bahagia, maka hidup tak ubahnya gua yang gelap dan pengap, membosankan. Lika-liku kehidupan itu yang ingin diungkapkan oleh al Manfaluthi dalam kumpulan cerpen ini.

Burung Pipit dari Timur
Penulis: Taufik El Hakim

Cinta memiliki sayap yang kokoh, dapat melintasi laut dan benua, tidak peduli warna kulit dan bangsa. Muhsin yang gagal mencintai gadis tetangganya di Mesir, Mengembara di Paris. Ia ketemu Susy. Jatuh cinta tapi mulanya sangat sulit menyatakan cinta. Sebab ia tidak tahu dengan bahasa apa cinta seorang lelaki Timur dapat dipahami oleh gadis Perancis yang amat cantik dan menggairahkan itu. Saat itulah Muhsin merasakan hidup adalah puisi.

Cleopatra
Penulis: G. Bernard Shaw

Cleopatra, nama ratu Mesir Kuno ini sudah demikian melegenda. Ia terkenal dalam sejarah sebagai wanita cantik dan ambisius. Dengan kecantikannaya ia tundukkan semua lelaki untuk patuh, mengabdi, dan memenuhi ambisi kekuasaannya. Julius Caesar, penguasa Roma yang gagah perkasa, adalah salah satu ‘korban’ dari kecantikan Cleopatra. Dia rela meninggalkan tahta hanya untuk Cleopatra. Demikian juga Mark Anthony, pahlawan perang dan pengawal pribadi Caesar, bagai kerbau dicocok hidungnya, mau menuruti kehendak wanita yang dipujannya.

Cahaya Jiwa
Penulis: Samiroh

Novel yang ditulis Samiroh ini mengi­sahkan pahit getir kehidupan seorang perempuan muda dalam men­cari cinta, yang sesungguhnya meru­pa­­kan anugerah Tuhan bagi tiap-tiap manu­sia. Namun takdir jualah yang membuat riwayat cinta manusia tidak sama.
Syuruq, perempuan muda dari Lebanon, yang bercita-cita menjadi seorang pramugari, terjerat oleh jebakan cinta seorang pilot. Meski Syuruq berpengalaman menjelajahi angkasa, bergaul dan berdialog dengan berbagai budaya di negara-negara yang disinggahi, tapi hatinya masih polos dan lugu. Hingga ia terjebak dalam fata­morgana cinta. Setelah sadar, Syuruq berjuang untuk melepaskan diri dari jerat cinta sang pilot dan mengarungi samudera cinta dengan Hazim - lelaki Spanyol yang secara tulus mencintainya.

Dari Balik Penjara
Penulis: Najib Kaelani

Penjara ternyata bukan satu-satunya tempat yang buruk. Penjara juga bukan satu-satunya tempat yang dapat membelenggu kebebasan, mencabik-cabik nurani, dan harga diri, serta martabat manusia. Ada tempat lain yang lebih kejam , lebih kotor, dan lebih jahat dari penjara, yaitu rumah tangga. Rumah tangga yang tidak harmonis ternyata tidak jauh berbeda dengan penjara. Suami yang membelenggu isteri dalam rumah tangga, sama seperti sipir penjara membelenggu narapidana. Lantas bagaimana jika narapidana dalam sel tahanan, bertemu dengan ‘narapidana’ rumah tangga? Bagaimana dua anak manusia yang terbelenggu ini saling bertemu dan jatuh cinta?

Dendang Penari
Penulis: Sutirman Eka Ardhana

Joget hutan di Bengkalis, Riau, barangkali seperti lengger, tayub, dombret, ledek atau tandak di Jawa. Mungkin sama, tetapi bisa jadi berbeda. Namun yang jelas di panggung macam itulah para perempuan dengan dandanan yang "wah" menampilkan kebolehan. Tangan-tangan lemah gemulai dan suara merdu mendayu-dayu. Menari bersama mereka, para lelaki bagaikan dilambungkan ke awan putih.
Eka Ardhana asli Riau, kenal betul tradisi joget yang menghanyutkan perasaan laki-laki dewasa itu. Pengarang menulis novel "Dendang Panari" ini bagaikan menuturkan riwayatnya sendiri. Dengan gaya romantis yang kental dan di sana-sini melankolik. Tampak sekali ia masih memiliki ikatan batin cukup kuat dengan tanah tumpah darah dan komunitas masa lalunya. Ia sangat trampil bercerita tentang perempuan-perempuan panggung yang pernah menjadi bagian dari proses dirinya menjadi dewasa.

Di Bawah Duli Tuanku
Penulis: Naquib Mahfoudz

Novel ini bercerita tentang ambisi, kekuasaan, kepedulian dan ketidakpedulian, kemiskinan dan keangkuhan, cinta dan dendam. Dalam menulis novel, Naquib cenderung bertindak sebagai ‘juru foto’ yang memotret realitas sosial, dan menyodorkannya pada masyarakat, tanpa pretensi.

Dua Perempuan
Penulis: Mahmoud Taymour

Novel ini mengetengahkan problematika kehidupan yang banyak kita jumpai. Sendi-sendi keluarga yang rapuh berpengaruh terhadap kondisi jiwa seorang anak. Sekaligus membuktikan bahwa cinta mampu mendorong seseorang yang sedang dibuai desir asmara, berbuat nekat. Karya ini juga memberi contoh makna cinta suci. Seperti cinta seorang kakak kepada adik, juga sebaliknya.

Fathiya Bukan Pilihan Cinta
Penulis: Layla Usman

Bagaimana perjuangan kemanusiaan masyarakat Arab dan manusia-manusia Arab ketika menghadapi berbagai tantangan dan cobaan hidup, yang seringkali amat berat? Bagaimana ketika keadaan demikian berubah, maka tantangan dan masalah baru, juga beban-beban hidup baru kemudian bermunculan? Bagaimana dalam keadaan yang rumit seperti ini cinta, kesucian dan harapan-harapan dipertaruhkan? Bagaimana yang namanya manusia itu tetap manusia, yang dapat khilaf, dapat berbuat aniaya, dapat menjadi korban cinta atau korban nafsu.

Gadis Jakarta
Penulis: Najib Kaelani

Gadis Jakarta menceritakan kondisi pergolakan politik tahun 1965. Dikisahkan seorang gadis, anak dedengkot Masyumi yang harus berjuang sendirian membebaskan ayah dan kekasihnya yang ditahan oleh ‘Partai’, karena menentang halauan ideologi ‘Partai’. ‘Partai’ (PKI) menguasai perpolitikan Indonesia. Mereka menggunakan berbagai cara untuk mencapai cita-cita. Namun kegigihan Az Zaim (Ketua Partai) kandas oleh kegigihan seorang gadis muda.

Jiwa-jiwa Pemberontak
Penulis : Gibran Kahlil Gibran

Jiwa-jiwa Pemberontak merupakan ungkapan pemberontakan dari jiwa yang telah dicerahkan oleh kekuatan gaib. Si Bocah Kufur mengajari kita untuk melawan kekerasan dengan cinta, melawan kedunguan dengan pancaran kasih, kesesatan dengan kata-kata hikmah. Dan membalas kebaikan dengan jiwa, membalas cinta suci dengan tebusan nyawa.

Kata Sandi Syaikh Juha
Penulis: Ali Achmad Baktsiir

Syaikh Juha adalah simbol perlawanan terhadap artikelidakberesan hidup masyarakat, bangsa, dan negara. Ia melawan dengan kearifan, keberanian lewat humor dan lelucon-leluconnya yang tajam. Dengan demikian kita tidak hanya diperkaya dengan strategi perlawanan, teknik perlawanan, tetapi juga seni perlawanan yang tinggi, indah, lembut dan menyeluruh (total). Dalam novel ini, seni perlawanan yang dipraktikan Juha dengan kata sandi.

Keledai Syaikh Juha
Penulis: Usamah Abu Bakar

Membaca kisah-kisah Syaikh Juha acapkali membuat kita tak mampu menahan hasrat tertawa. Daripada menertawakan para politisi, yang perilakunya sangat konyol, memang lebih baik tertawa bersama kecerdasan Syaikh Juha. Sebenarnya logika berfikir Syaikh Juha sederhana, tapi dapat menjadi obat, terutama dihadapan orang yang suka berfikir njlimet.

Kesaksian Sang Penyair
Penulis: Thoha Husen

Cinta sering terhalang oleh perbedaan agama dan status sosial. Cinta juga sering terganjal oleh nafsu dan cemburu. Ganjalan cinta karena perbedaan agama ataupun status sosial, banyak dijumpai pada masyarakat berkembang atau tradisional. Pada masyarakat yang masih kental dan kuat memegang tradisi, nasab atau artikelurunan, harta dan jabatan merupakan harga mati. Karya ini menjadi semacam mangkuk adonan yang mencampur semua penghalang cinta.

Layla Majnun
Penulis: Syeikh Nizami

Roman cinta paling populer dan bertahan dari generasi ke generasi, serta telah diterjemahkan ke berbagai bahasa. Sudah tak terhitung lagi syair dibuat, lagu diciptakan, drama dan film dipentaskan, kajian dan diskusi digelar. Belum pernah ada kisah yang menyamai kepopuleran Layla-Majnun. Inilah kisah cinta paling ‘gila’ dari orang Gila (Majnun).

Lelaki di Titik Nol
Penulis: Mustafa Mahmud

Buku ini memuat gugatan terhadap keyakinan kita akan nilai kebenaran. Ilmu pengetahuan manusia sudah sedemikian maju, namun toh ada misteri yang tak mampu dipecahkan manusia modern, seperti misteri cinta. Meskipun banyak orang mencoba menafsirkan dan mengkaji perasaan tersebut secara ilmiah, seperti Dr. Syahin yang menjadiakan bulan madunya bersama Rosita sebagai kerja spesial bagai bidang magnet yang saling menarik, menggambarkan luapan cinta magnetik yang ada, namun toh misteri cinta tetap tidak mampu dijawab.

Love Stories
Penulis: Usamah Abu Bakar

Cinta itu semilir angin, tak mampu ditangkap dengan pancaindra, tak bisa dan tak perlu didiskusikan, dilogikakan apalagi diperdebatkan. Cinta hanya perlu dinikmati, dihayati dan dijalankan. Sebagai angin, kita hanya mampu merasakan kehadiran cinta dalam jiwa.
Buku ini berisi kisah-kisah paling romantis dari para pecinta di Timur maupun Barat, dari Arab hingga India, Eropa maupun Amerika. Dari orang paling gila, si Majnun hingga kegilaan Dodi al Fayed dan Lady Diana. Keanggunan Josephine berpadu dengan kekuatan Napoleon, hingga keabadian Mumtaz, penghuni Taj Mahal.
Dalam buku ini pula Anda dapat membanding-banding keagungan cinta antara Timur dan Barat, baik histories maupun fiksi. Anda bisa simak kisah cinta Layla-Majnun, Qays-Lubna, Dodi al Fayed - Lady Diana dan masih banyak lagi kisah-kisah cinta abadi dari berbagai penjuru dunia.

Selasa, 22 Januari 2008

MAKNA CINTA

Hari ini aku sangat letih sekali akan tetapi tak tahu mau berbuat apa maka akuputuskan untuk membuka internet, ditengah asyiknya aku browsing, musik yang sedari tadi aku hidupkan yang aku cueki saja gak begitu aku dengarkan sadar saja kupingku mendengarkan lagu yg begitu lembut yang berjudul "makna cinta" yg dinyanyikan oleh penyanyi Indonesia yang bernama Bram. Aku dengarkan berkali kali lalu aku mengambil pena dan kertas dan menulis syairnya, tujuannya untuk aku hafalkan :):):)


Makna Cinta

Saat kecilku pernah bertanya
dalam arti cinta pada Bunda
Bunda pun menjawab
cinta adalah kasih sayang induk dan anaknya

Saat ku mulai beranjak dewasa
pada sahabatku pun bertanya
dia pun menjawab
cinta adalah kasih sayang dua insane manusia

Adakah yang mampu menjawab
makna cinta yang slaluku tanyakan
berkah yang ternyata rasa cinta
hanya pendamkan cahaya suka dan duka

Ku trus menjawab pun bertanya
walau kini kuterjang cinta
cinta terjawab dengan kata
mungkin cinta hanya tuk dirasa

Suka duka akan mewarnai cinta
yang menyatu kan dua insan berbeda
mungkin tak kan kutemukan makna cinta sebelumku menjalaninya

Nasehat untuk kita Renungkan !?!?....

Buya Hamka pernah berkata:

"Mengapa engkau tidak tatap langit yang biru dengan awan seputih kapas yang indah atau engkau tatap bukit yang hijau dengan lereng yang indah? Gemercik air mengalir, indah. Atau, engkau bangun pada malam hari engkau tatap langit dengan taburan bintang dan bulan yang tidak pernah bosan orang menatapnya. atau, engakau bangun dengar suara jangkrik katak bersahutan indah. Lalu kenapa hati yang satu-satunya ini harus kita isi dengan kejelekan. Padahal, jelek itu tidak pernah bersatu dengan keindahan. kalau alam ini indah dan hati kita mencintai keindahan, niscaya akan terpancar pribadi yang indah."

Selasa, 01 Januari 2008

Cermin Yang Terlupakan

Pada suatu ketika, suami istri, katakanlah nama mereka Smith, mengadakan ‘garage sale’ untuk menjual barang-barang bekas yang tidak mereka butuhkan lagi. Suami istri ini sudah setengah baya, dan anak-anak mereka telah meninggalkan rumah untuk hidup mandiri. Sekarang waktunya untuk membenahi rumah, dan menjual barang-barang yang tidak dibutuhkan lagi.

Saat mengumpulkan barang yang akan dijual, mereka menemukan benda-benda yang sudah sedemikian lama tersimpan di gudang. Salah satu di antaranya adalah sebuah cermin yang mereka dapatkan sebagai hadiah pernikahan mereka, dua puluh tahun yang lampau.
Sejak pertama kali diperoleh, cermin itu sama sekali tidak pernah digunakan. Bingkainya yang berwarna biru aqua membuat cermin itu tampak buruk, dan tidak cocok untuk diletakkan di ruangan mana pun di rumah mereka. Namun karena tidak ingin menyakiti orang yang menghadiahkannya, cermin itu tidak mereka kembalikan. Demikianlah, cermin itu teronggok di loteng. Setelah dua puluh tahun berlalu, mereka berpikir orang yang memberikannya tentu sudah lupa dengan cermin itu. Maka mereka mengeluarkannya dari gudang, dan meletakkannya bersama dengan barang lain untuk dijual keesokan hari.

Garage Sale mereka ternyata mendapat banyak peminat. Halaman rumah mereka penuh oleh orang-orang yang datang untuk melihat barang bekas yang mereka jual.
Satu persatu barang bekas itu mulai terjual. Perabot rumah tangga, buku-buku, pakain, alat berkebun, mainan anak-anak, bahkan radio tua yang sudah tidak berfungsi pun masih ada yang membeli.

Seorang lelaki menghampiri Mrs. Smith. “Berapa harga cermin itu?” katanya sambil menunjuk cermin tak terpakai tadi. Mrs. Smith tercengang. “Wah, saya sendiri tidak berharap akan menjual cermin itu. Apakah anda sungguh ingin membelinya?” katanya. “Ya, tentu saja. Kondisinya masih sangat bagus.” Jawab pria itu. Mrs. Smith tidak tahu berapa harga yang pantas untuk cermin jelek itu. Meskipun sangat mulus, namun baginya cermin itu tetaplah jelek dan tidak berharga. Setelah berpikir sejenak, Mrs Smith berkata, “Hmm… anda bias membeli cermin itu untuk satu dolar. “Dengan wajah berseri-seri, pria tadi mengeluarkan dompetnya, menarik selembar uang satu dolar dan memberikannya kepada Mrs. Smith.

“Terima kasih,” kata Mrs. Smith, “sekarang cermin itu jadi milik Anda. Apakah perlu dibungkus?” “Oh, jika boleh, saya ingin memeriksanya sebelum saya bawa pulang.” Jawab si pembeli. Mrs. Smith memberikan ijinnya, dan pria itu bergegas mengambil cerminnya dan meletakkannya di atas meja di depan Mrs. Smith. Dia mulai mengupas pinggiran bingkai cermin itu. Dengan satu tarikan dia melepaskan lapisan pelindungnya dan muncullah warna keemasan dari baliknya. Bingkai cermin itu ternyata bercat emas yang sangat indah, dan warna biru aqua yang selama ini menutupinya hanyalah warna dari lapisan pelindung bingkai itu! “Ya tepat seperti yang saya duga! Terima kasih!” sorak pria itu dengan gembira. Mrs. Smith tidak bias berkata-kata menyaksikan cermin indah itu dibawa pergi oleh pemilik barunya, untuk mendapatkan tempat yang lebih pantas daripada loteng rumah yang sempit dan berdebu.

Kisah ini menggambarkan bagaimana kita melihat hidup kita terkadang kita merasa hidup kita membosankan, tidak seindah yang kita inginkan. Kita melihat hidup kita berupa rangkain rutinitas yang harus kita jalani. Bangun pagi, pergi bekerja, pulang sore, tidur, bangun pagi, pergi bekerja, pulang sore, tidur. Itu saja yang kita jalani setiap hari. Sama halnya dengan Mrs. Smith yang hanya melihat plastik pelapis dari bingkai cermin mereka, sehingga mereka merasa cermin itu jelek dan tidak cocok digantung di dinding. Padahal dibalik lapisan itu, ada warna emas yang indah. Padahal di balik rutinitas hidup kita, ada banyak hal yang dapat memperkaya hidup kita. Setiap saat yang kita lewati, hanya bias kita alami satu kali seumur hidup kita. Setiap detik yang kita jalani, hanya berlaku satu kali dalam hidup kita. Setiap detik adalah pemberian baru dari Tuhan untuk kita. Akankah kita menyia-nyiakannya dengan terpaku pada rutinitas? Akankah kita membiarkan waktu berlalu dengan merasa hidup kita tidak seperti yang kita inginkan? Setelah dua puluh tahun, dan setelah terlambat, barulah Mrs. Smith menyadari nilai sesungguhnya dari cermin tersebut. Inginkah kita menyadari keindahan hidup kita setelah segalanya terlambat? Tentu tidak. Sebab itu, marilah kita mulai mengelupas rutinitas tersebut dan menemukan nilai sesungguhnya dari hidup kita. Marilah kita mulai menjelajah hidup kita, menemukan hal-hal baru, belajar lebih banyak, mengenal orang lebih baik. Mari Kita melakukan sesuatu yang baru. Mari Kita membuat perbedaan! Mari Kita jelang tahun yang baru ini dengan suatu semangat baru untuk menjalani hidup lebih baik setiap hari.

Dari teman yg sedang berjuang di negeri seribu menara (Ma'annajah)

Minggu, 25 November 2007

JIKA KITA........

"JIKA Kita sangat sibuk ..., mengapakah Kita tidak Kaya ?"

JIKA Kita sangat sibuk ..., mengapa naik pangkat/jabatan hanya suatu
barang langka ... ?

JIKA Kita sangat sibuk ...,
mengapa masih mengontrak rumah ... ?

JIKA Kita sangat sibuk ...,
mengapa masih menumpang angkutan umum ... ?

JIKA Kita sangat sibuk ...,
mengapa hanya sepasang kursi dan meja di ruang tamu ... ?


JIKA Kita sangat sibuk ...,
mengapa menumpuk hutang/tagihan yang harus dibayar ... ?


JIKA Kita sangat sibuk ., mengapa ketika bangun
pagi Kita merasakan tidak pernah ada "kemarin" ... ?


JIKA Kita sangat sibuk ..., mengapa Keluarga Kita tidak pernah merasakan
"arti dan kehadiran" Kita bagi mereka ... ?

JIKA Kita sangat sibuk ..., mengapa keluarga Kita tersesat mencari rumah
Kita karena setiap tetangga yang ditunjukkan secarik kertas berisi nama
Kita kemudian mengatakan: "Tidak Tahu ... ?"

JIKA Kita sangat sibuk ...,
mengapa Kita masih belum yakin masa depan Kita ... ?


Jadi ..., sebetulnya untuk apakah kesibukan yang Kita lakukan setiap detik
..., setiap menit ..., setiap jam ..., setiap hari ..., setiap minggu ...,
setiap bulan ... dan bahkan setiap tahun itu ... ?

(Sambil merenungkan pertanyaan yang terakhir, mohon diingat-ingat sudah
berapa tahunkah usia Kita saat ini)

Senin, 18 Juni 2007

Cara Membuat Pizza

Resep Masakan - Pizza mini
Friday, 18 May 2007


Bahan kulit :

350 gram terigu cap Cakra
200 ml Air
1 bungkus ragi instan
1/4 sendok garam

Bahan isi

- Saus Tomat
- Toping sesuai selera (bisa daging giling yang ditumis dengan bawang bombay, bawang putih, tomat, saus tomat, atau daging asap, daging ayam giling, sosis dsb)
- Keju Mozarella


Cara membuat :

campur semua bahn kulit, uleni sampai kalis
Biarkan 15 menit sambil ditutup serbet bahas
Kempeskan, bagi 8 atau sesuai selera, bulatkan dan pipihkan membentuk lingkaran, tepinya agak ditinggikan Oles saus tomat, Taburi topping Taburi keju mozarela yang dioles tipis.

Bakar sampai matang.

Selamat Mencoba